BAHASAMU BAHASAKU
Ah….
Indah artimu buatku
Yang terbalut dengan indah cinta kasih engkau dan aku
Berdua…
Bersama…
Mencari arti yang indah dalam cinta
Kita berikan arti kerinduan
Dalam setia cinta kita
Mencari arti
Ketulusaan dalam setiap inci
Kasih dan sayang kita berdua
Di sini ku kan selalu ada untukmu
Disana engkau ‘kan selalui ada untukku
Dalam satu ikatan cinta dan kerinduan engkau dan aku
Shahih Bukhari, Hadits No. 3100 :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ { كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ } وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ وَإِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِي يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيَقُولُ إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ { وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي إِلَى قَوْلِهِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ }
3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).
Tentang makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam hadits tersebut قَالَ فَيُقَال إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ “Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu”
Syeikh al Mubarakhfuri didalam kitabnya “Tuhfah al Ahwadzi” mengutip perkataan an Nawawi dialam “Syarhnya” yang mengatakan bahwa terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang hal itu :
Pertama : Bahwa maksudnya adalah orang-orang munafik dan orang-orang murtad yang bisa jadi dikumpulkan dikarenakan cahaya (bekas wudhu) lalu Nabi shalallahu alaihi wa sallam memanggil mereka dikarenakan tanda yang ada pada mereka namun dikatakan (kepada Nabi) bahwa mereka bukan termasuk orang-orang yang dijanjikan kepadamu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang telah mengganti (agamanya) setelahmu artinya bahwa mereka tidaklah mati diatas lahiriyahnya seperti saat kamu tinggalkan mereka.
Kedua : Bahwa maksudnya adalah orang yang ada pada zaman Nabi shalallahu alaihi wa sallam kemudian murtad sepeninggalnya lalu Nabi shalallahu alaihi wa sallam memanggil mereka meskipun tidak ada tanda wudhu pada diri mereka dikarenakan Nabi shalallahu alaihi wa sallam mengenalnya disaat hidupnya akan keislaman mereka lalu dikatakan kepada Nabi shalallhu alaihi wa sallam bahwa mereka telah murtad.
Ketiga : Bahwa mereka adalah para pelaku maksiat dan dosa besar yang meninggal diatas tauhid serta para pelaku bid’ah yang kebid’ahannya tidak mengeluarkan mereka dari islam.
Al Hafizh Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa setiap yang melakukan perbuatan baru didalam agama (bid’ah) termasuk orang-orang yang dihalau dari telaga (Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam), seperti : Khawarij, Rafdihah dan para pengikut hawa nafsu.
Dia juga mengatakan,”Termasuk orang-orang zhalim yang berlebihan didalam kezhaliman, menghilangkan kebenaran dan mengumumkan dosa-dosa besarnya.” Dia berkata,”Setiap mereka dikhawatirkan termasuk dalam apa yang dimaksudkan didalam hadits.”
Al Hafizh Ibnu Hajar didalam kitabnya “al Fath” menyebutkan bahwa yang terdapat didalam riwayat al Kusymihani “Lan Yazaaluu” serta didalam terjemah Maryam dari hadits-hadits tentang para Nabi. Al Farari berkata bahwa telah disebutkan dari Abu Abdillah al Bukhari dari Qabishah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang murtad pada masa Abu Bakar yang kemudian diperangi Abu Bakar hingga mereka terbunuh dan mati dalam keadaan kufur. Al Ismailiy juga telah menyambungkannya dari sisi lain dari Qabishah.
Al Khattabi mengatakan,”Tak seorang pun dari sahabat yang murtad. Adapun yang murtad adalah orang-orang kasar dari kalangan badui yang tidak pernah membela agama (islam) dan hal ini tidaklah menjdikan aib bagi para sahabat yang masyhur. Hal itu ditunjukkan dengan perkataannya “Ushaihabii” dengan pola yang menunjukkan kecil ,maksudnya jumlah mereka adalah sedikit.”
Ibnu at Tiin mengatakan,”Mengandung makna bahwa mereka adalah orang-orang munafik atau para pelaku dosa-dosa besar.” .. ad Dawawi mengatakan,”Tidak menutup kemungkinan termasuk pula para pelaku dosa besar dan perbuatan bid’ah.” (Fathul Bari 18/370)
Wallahu A’lam.
Aku Kau dan NYA
Aku padamu jika kau pada-NYA
Jika kau tak pada-NYA, maka tak mudah bagiku padamu
Jika kau ingin aku padamu maka mendekatlah padaNYA
Bukan mendekat langsung padaku
Karena DIA lah yang memegang hatiku.
Aku mungkin bisa tanpa kau
Tapi aku tak bisa tanpaNYA.
Aku, kau, dan NYA
Bukan rupa yang kan membuatku padamu
Bukan harta yang kan membuatku silau padamu
Bukan pula tahta yang kulihat darimu
Rupa kan layu seiring bertambahnya usia
Harta bisa habis kapan saja
Tahta bukanlah segalanya
Aku padamu jika kau dapat membuatku dekat denganNYA
Aku padamu, yang dengan memandangmu membuatku ingat padaNYA
Aku kan melihatmu karenaNYA
Jika DIA ada dalam hatimu, maka aku padamu
If I could see GOD in you, I’m to you
Sumber:Dakwatuna
Kaidah-Kaidah Memahami Fitnah
(Oleh: Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman[2])
Pembahasan seputar fitnah merupakan perkara yang sangat penting. Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam banyak memberikan perhatian yang nyata terhadap hal ini. Seorang muslim hendaklah memahami permasalahan ini secara benar, dengan menempatkan nash-nash pada tempatnya. Dia tidak boleh memahaminya dengan apa yang tidak dikehendaki oleh Rabb kita dan Nabi kita Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.
Ketika mendengar nash-nash tentang masalah ini (masalah fitnah), sepantasnya seorang muslim memahami kulliyyat (hal-hal prinsip) dan perkara-perkara mujmal (global). Hal itu tidak boleh lepas dari perhatiannya selama-lamanya.
Tema yang akan kita bicarakan adalah tentang fitnah, bagaimana kita menjauhinya, dan apa saja hal-hal yang jika kita tempuh akan menjauhkan diri kita dan masyarakat kita dari fitnah.
Sebelum kami sebutkan sebab-sebab (yang menjauhkan diri kita dan masyarakat kita dari fitnah), kami akan menerangkan sebagian perkara yang memiliki hubungan dengan sebab-sebab tersebut. Hal ini sebagai muqaddimah.
PERKARA PERTAMA
Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam memberikan perhatian (yang besar) terhadap masalah fitnah. Imam Muslim telah meriwayatkan dari Hudzaifah:

Suatu hari Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam
shalat subuh bersama kami, lalu beliau naik mimbar.
Kemudian beliau berkhotbah, sampai waktu zhuhur tiba.
Lalu beliau turun, kemudian shalat zhuhur bersama kami.
Lalu beliau naik mimbar,
kemudian beliau berkhotbah, sampai waktu ashar tiba.
Lalu beliau turun, kemudian shalat.
Lalu beliau naik mimbar,
kemudian beliau berkhotbah, sampai matahari tenggelam.
Tidaklah Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam meninggalkan
sesuatupun (yang terjadi) sampai hari kiamat,
kecuali beliau memberitakannya.
Orang yang hafalpun hafal, dan orang yang lupapun lupa.[3]
Dalam hadits di atas, Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengkhususkan satu hari penuh untuk membicarakan masalah fitnah. Beliau berkhutbah kepada sahabatnya mulai shalat fajar sampai matahari tenggelam, untuk membicarakan masalah fitnah.
Dalam riwayat yang lain Abdullah bin Amr berkata di dalam hadits yang panjang, penting, dan pokok, tentang masalah fitnah.
Terhadap hadits Abdullah bin Amr ini (akan disampaikan di bawah-pent) kita memiliki beberapa renungan. Tema yang kita bahas (fitnah) sangat luas dan untuk dapat meliputi pembahasan fitnah, kita membutuhkan ceramah-ceramah yang sangat panjang. Berhubung waktu (kita) terbatas saya akan memberikan perhatian terhadap perkara-perkara global, penting, dankuliyyaat (hal-hal prinsip).
Imam Muslim telah meriwayatkan hadits yang sanadnya sampai kepada Abdurrahman bin Abdurrabbil Ka’bah (seorang tabi’i yang agung), dari Abdullah bin Amr bin Ibnul Ash, dia berkata Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku,
kecuali merupakan kewajiban Nabi itu untuk menunjukkan umatnya,
kebaikan yang dia ketahui untuk mereka,
dan memperingatkan mereka
dari keburukan yang dia ketahui untuk mereka. [4]
Inilah syahidnya :[5]

Dan sesungguhnya umat kamu ini,
keselamatannya dijadikan pada awalnya.
Tetapi akhir umat ini akan ditimpa oleh musibah
dan perkara-perkara yang kamu ingkari.
Sehingga fitnah akan datang,
lalu sebagiannya akan mengecilkan sebagian yang lain.
Kemudian fitnah akan datang, lalu seorang mukmin akan berkata:
“Inilah kebinasaanku”.
Lalu fitnah itu hilang.
Kemudian akan datang fitnah,
lalu seorang mukmin akan berkata: “Inilah, inilah”
Kemudian Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam melanjutkan sabdanya tadi:

Barangsiapa suka diselamatkan dari neraka dan masuk sorga,
maka hendaklah kematiannya mendatanginya
sedangkan dia beriman kepada Allâh dan hari akhir.
Dan hendaklah dia menyikapi manusia,
dengan apa yang dia suka manusia menyikapinya.
Barangsiapa membai’at seorang imam,
dan dia telah memberikan tepukan tangannya (yakni perjanjiannya) dan buah hatinya,
(maka hendaklah dia mentaatinya semampunya) [6]
lalu datang orang lain untuk menentang imam itu,
maka pukullah leher yang lain itu.
Atau beliau bersabda:
“Leher orang yang akhir.”
Abdurrahman bin Abdurrabbil Ka’bah berkata
kepada Abdullah bin Amr bin Ibnul Ash:
“Demi Allâh, apakah anda mendengar dari Rasulullah?”
Maka Abdullah menunjuk ke arah hatinya
dan kedua telinganya, dan berkata:
“Aku telah mendengarnya dengan kedua telingaku (dari Rasûlullâh),
dan hatiku memahaminya.”
Hadits ini merupakan penguat terhadap pernyataan yang telah kami sampaikan, bahwa Nabi memberikan perhatian yang besar terhadap masalah fitnah. Bahkan hal ini merupakan tugas seluruh para Nabi. Tidaklah Allâh mengutus seorang Nabi pun, kecuali merupakan kewajibannya untuk menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang dia ketahui untuk mereka dan memperingatkan umat dari keburukan yang dia ketahui.
Begitu pulalah keadaan para sahabat. Disebutkan dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari hadits Hudzaifah, dia berkata:

“Orang-orang biasa bertanya
kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tentang kebaikan.
Sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan,
karena khawatir terjerumus ke dalamnya.”
Para sahabat biasa bertanya tentang fitnah (keburukan), beliau biasa menjawabnya, dan memerinci berita-berita (tentang fitnah). Para sahabat dan para pengikut mereka (yang datang) setelah mereka[7] biasa memberitakan, membicarakan, dan mendengar tentang fitnah. Sehingga mereka waspada terhadapnya dan memberikan peringatan darinya, agar tidak terfitnah, dan tetap di atas jalan yang lurus. Mereka bertanya dan mempelajari, sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:
Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan,
tetapi untuk menjaga diri darinya.
Barangsiapa yang tidak mengetahui keburukan dari kebaikan,
niscaya dia terjerumus ke dalamnya.
PERKARA KEDUA:
Kita harus tahu, bahwa generasi terbaik umat ini ada pada generasi pertama. Fitnah bertambah keras dengan berlalunya waktu. Setiap lewat satu waktu, fitnah bertambah keras dan menjadikan seorang muslim di dalam ghurbah (keadaan asing).
Perkara ini sepantasnya kita fahami dengan baik, dan sepantasnya kita mengetahui maksud Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam mengenai pemberitaan ini.
Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ibnul Ash (di atas disebutkan):

Dan sesungguhnya umat kamu ini,
keselamatannya dijadikan pada awalnya.
Tetapi akhir umat ini akan ditimpa oleh musibah
dan perkara-perkara yang kamu ingkari.
Keselamatan, kebaikan, berkah, agama, iman, ilmu, amal, ilmu yang bermanfaat, amal yang shalih, dalam bentuk yang cukup dan sempurna ada pada generasi pertama umat ini. Oleh karena itulah ketika turun firman Allâh Ta’ala:
![]()
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.
(QS Al-Maidah/5: 3)
Umar menangis. Ketika dia ditanya penyebab tangisnya, dia menjawab:
“Tidak ada setelah kesempurnaan, kecuali kekurangan.”
Hakekat kedua ini sepantasnya kita ketahui, tetapi kita tempatkan sebagaimana dikehendaki oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Kita tidak memahaminya dengan akal sebagaimana yang kita inginkan dan kita kehendaki. Tetapi kita memahaminya dengan mengikuti para sahabat Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Mereka lebih mengetahui maksud Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam daripada kita.
Hakekat ini benar berdasarkan banyak dalil, aku akan mencukupkan dengan sebagiannya.
Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya sampai Zubair bin Adi, seorang tabi’i yang agung, dia telah berkata:

Kami mendatangi Anas bin Malik,
kami mengadukan apa yang kami temui dari Al-Hajjaj. [8]
Maka Anas berkata:
“Sabarlah, karena sesungguhnya tidaklah satu zaman datang kepada kamu
kecuali yang datang setelahnya lebih buruk
(sampai kamu bertemu Rabb kamu) [9]
Aku telah mendengarnya dari Nabi kamu Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam”
Di dalam hadits Abdullah bin Amr bin Ibnul Ash disebutkan:
“Dan sesungguhnya umat kamu ini, keselamatannya dijadikan pada awalnya.
Tetapi akhir umat ini akan ditimpa oleh musibah
dan perkara-perkara yang kamu ingkari, sehingga akan datang fitnah,
lalu sebagiannya akan mengecilkan sebagian yang lain.”
Apakah makna : “Sebagiannya akan mengecilkan sebagian yang lain?”
Maknanya, fitnah hari ini akan menjadikan kecil fitnah kemarin. Dan fitnah besok akan menjadikan kecil fitnah hari ini. Fitnah lusa akan menjadikan kecil fitnah yang akan datang. Maka, fitnah datang pada setiap zaman berjalan, dan sebagiannya mengecilkan sebagian yang lain. Inilah yang difahami oleh Abdullah bin Mas’ud.
Diriwayatkan oleh Thabarani dengan sanad yang jayyid (bagus) dari Abdullah bin Mas’ud, bahwa suatu hari beliau berkata kepada istrinya:
“Wahai Ummu Abdurrahman (istri Abdullah bin Mas’ud). Manakah yang lebih utama, hari ini atau kemarin?”
Maka dia menjawab:
“Wahai Abu Abdurrahman (panggilan Abdullah bin Mas’ud), demi Allâh aku tidak tahu.”
Maka Abdullah bin Mas’ud berkata:
“Demi Allâh, sesungguhnya aku tahu, bahwa kemarin lebih baik daripada hari ini. Dan hari ini lebih baik daripada besok.”
Siapakah yang memberitahukan berita ghaib ini kepada Ibnu Mas’ud? Itu adalah sesuatu yang didengar dari Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Fitnah akan membesar dengan lewatnya waktu. Membesarnya fitnah telah diberitakan oleh Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, untuk menguatkan kehendak/niat (untuk meniti al-haq, pent), agar tidak mengagetkan dan tidak menyerang kita, sedangkan kita tidak memiliki persiapan.
Di saat fitnah, manusia membutuhkan kekuatan; kekuatan yang muncul dari dalam dirinya. Kadar kekuatan ini (haruslah) sekuat fitnah yang menyerang. Kekuatan itu didapatkan dengan cara mengumpulkan urusannya kepada Rabb-nya dan terus berpegang dengan (dan mengamalkan) perintah-perintah-Nya.
Jika seseorang tidak memiliki kekuatan, maka dia lemah, sedangkan fitnah datang mendesak, maka fitnah akan membanting wajah dan mulutnya. Wajahnya diserbu fitnah.
Ketika fitnah datang, seseorang harus mempersiapkan dirinya. Dia harus sadar, dan mengetahui, bahwa jika fitnah datang, dia harus tetap bangun.
Imran bin Hushain berkata:
“Kami diuji dengan kesenangan dan kesusahan. Kami dapat bersabar dengan kesenangan dan kesusahan, tetapi kami tidak dapat bersabar kesenangan.”
Dikala dalam kesusahan, manusia akan mengumpulkan kekuatannya, dan berlindung/kembali kepada Allâh, merendah diri, memohon, dan terus waspada. Adapun di saat senang, dia terfitnah, dia jatuh, tetapi tidak merasa.
Fitnah itu bukanlah kita lapar, tidak mendapatkan makanan atau minuman. Fitnah itu ada saat kita mendapatkan makanan, minuman, harta, dan dunia terbuka untuk kita. Kemudian kita berlomba meraih dunia, lalu dunia itu membinasakan kita, sebagaimana telah membinasakan orang-orang sebelum kita. Inilah fitnah itu.
Tidakkah anda tahu, ketika seorang ayah menginginkan anaknya bersafar untuk belajar -contohnya- di negeri yang rusak, seperti Eropa atau Amerika? Karena sangat sayangnya, sang ayah tadi menasehati anaknya (dengan memberitahukan keburukan-keburukan):
“Wahai anakku, engkau akan melihat ini, engkau akan menemui itu, engkau akan menjumpai itu”.
Berita yang sampaikan sang ayah, apakah supaya anaknya melakukan keburukan itu, atau supaya anaknya mewaspadainya? Tentulah agar anaknya mewaspadainya.
Nabi juga memberitakan supaya kita mewaspadainya, bahwa fitnah akan bertambah keras dengan berjalannya waktu. Agar kita mengumpulkan kekuatan, dan mengumpulkan diri kita (untuk mohon perlindungan) kepada Allâh Ta’ala.
Jika jiwa seseorang tidak memperhatikan hal tadi, maka sesungguhnya kebaikan akan terasa berat olehnya. Dahulu saya membaca satu ayat di dalam kitab Allâh (Al-Qur’an). Lama saya perhatikan ayat tersebut, dan saya merasa heran. Saya mendapatkan pertanyaan yang muncul dari ayat tersebut, yang mendorong agar saya memahami ayat ini (QS Al-Anfal/8: 6).
Para sahabat yang paling utama, adalah yang ikut perang Badar. Nabi bersabda:
“Sebaik-baik sahabatku adalah sahabat-sahabat yang ikut perang Badar.
Dan sebaik-baik Malaikat yang ada di sisi Allâh adalah yang ikut perang Badar.”
Para sahabat yang ikut perang Badar memiliki kedudukan yang tinggi. Mereka meninggalkan harta-benda dan kampung halaman. Mereka meninggalkan semuanya karena Allâh. Mereka meninggalkan yang mahal dan berharga. (Namun yang menjadikan saya bertanya) Rabb kita mensifati sahabat-sahabat yang ikut perang Badar, di dalam surat Al-Anfal (sebagai berikut):
![]()
Seolah-olah mereka dihalau menuju kematian,
sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).
(QS Al-Anfal/8: 6)
Lihatlah orang yang akan berperang. Dalam peperangan itu seolah-olah dia digiring menuju kematian, dan dia membayangkan kematian! Apa yang terjadi padanya? Dia berkeluh kesah dan takut.
Padahal ini tidaklah sesuai dengan sifat Ahlul Badar, bukankah demikian?
Maka ketika itu dalam beberapa saat saya merasakan keanehan dengan ayat ini. Ahlul Badar tidaklah begini. Ahlul Badar adalah orang-orang yang suka berkorban, Ahlul Badar adalah orang-orang yang suka berjihad. Tetapi mengapa begini sifat mereka?
Kemudian saya sadar dan faham. (Bahwa sebelumnya), Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada mereka agar memilih dua perkara: menyerang kafilah[10] (karena orang-orang kafir mengambil harta dan rumah kaum Muhajirin di kota Makkah), atau mengambil harta yang mereka bawa.
Jika jiwa disuruh memilih (satu dari) dua perkara, maka jiwa itu akan condong kepada yang lebih ringan. Ketika (pilihan) terjadi pada yang lebih berat, jadilah yang lebih berat itu sangat berat!
Keadaan ahlul Badar ketika pergi berperang, seolah-olah digiring menuju kematian, karena kekuatan dalam diri mereka tidak disiapkan untuk memerangi musuh. Tetapi mereka dikagetkan dengan datangnya jihad. Sedang diri mereka condong untuk mengambil harta lalu pulang kembali. Maka tatkala terjadi jihad, hal itu terasa berat bagi mereka.
Oleh karena inilah Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam memberitakan kepada kita tentang fitnah yang akan bertambah keras dengan lewatnya waktu.
Mengapa? Supaya kita waspada, kita bersedia, kita memiliki perhatian. Supaya fitnah itu tidak menjatuhkan kita, sedangkan kita tidak merasa. Sepantasnya kita memahami tentang “(berita) bertambah kerasnya fitnah” sebagaimana makna ini. Ini termasuk rahmat Nabi kita Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam.
Hendaknya kita tahu makna “fitnah akan bertambah keras setiap lewat zaman”.
Telah shahih dari hadits Abdullah bin Mas’ud dalam Shahih Bukhari, dia berkata:
“Kiamat tidak akan terjadi kecuali kepada makhluk yang paling jahat.”
Pada riwayat lain:
![]()
Makhluk yang paling jahat adalah orang-orang yang kiamat mengenai mereka,
(sedangkan mereka dalam keadaan hidup).” [11]
Pada riwayat Muslim, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
Kiamat tidak akan terjadi hingga di bumi disebut:
“Allâh-Allâh.[12]
Orang-orang akan meninggalkan Madinah,
sehingga anjing dan serigala akan datang,
lalu kencing di atas mimbar Rasulullah.[13]
Pada akhir zaman akan terjadi kehancuran di kota Madinah.
Bangunan Madinah hancur di Baitul Maqdis,
sedangkan bangunan Baitul Maqdis akan hancur di masjid ini.
Fitnah akan terjadi dan akan bertambah keras, sampai seseorang akan menemui seorang fasiq berzina di tengah jalan! Sekarang, hal ini telah terjadi.
Akan tetapi ada kemusykilan. Marilah kita perhatikan bersama tentang tanda yang besar hari kiamat, tentang Al-Mahdi, Dajjal, dan Isa ‘alaihissalam.
Manakah yang lebih dahulu, Dajjal atau Isa? Dajjal mendahului Isa. Sedangkan Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
![]()
“Tidak akan datang zaman kepada kamu, kecuali yang
datang sesudahnya lebih buruk darinya.”
Apakah yang dimaksudkan? Sedangkan Nabi Isa ‘alaihissalam lebih baik daripada Dajjal. Untuk menghilangkan kemusykilan ini, para ulama mengatakan:
“Tanda-tanda besar hari kiamat memiliki urutan tersendiri”.
Tetapi kita mendapatkan kemusykilan lain. Manakah yang lebih dahulu, Al-Hajjaj atau Umar bin Abdul Aziz? Mana yang lebih dahulu, mana yang terakhir? Anda tahu?
Al-Hajjaj lebih dahulu, semua sepakat, karena ini merupakan sejarah. Tetapi siapakah yang lebih utama, Umar bin Abdul Aziz atau Al-Hajjaj? Umar bin Abdul Aziz lebih utama. Sedangkan NabiShallallâhu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda:
![]()
Tidak akan datang zaman kepada kamu, kecuali yang
datang sesudahnya lebih buruk darinya.
Hadits ini di dalam Shahih Bukhari. Bagaimana kita memahami hadits shahih ini?
Imam Adz-Dzahabi berkata di dalam kitabnya, Siyar A’lamin Nubala, tentang biografi Al-Hajjaj:
“Kami membencinya, tidak mencintainya, kami memusuhinya, tidak membelanya, dia memiliki kebaikan-kebaikan yang tenggelam di dalam lautan kejahatannya yang sangat banyak.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
“Seandainya umat diminta oleh Allâh untuk menunjukkan orang yang paling jahat di antara mereka, dan kita membawa Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, niscaya kita mengalahkan mereka!” [14]
Tentang Umar bin Abdul Aziz, apa yang dikatakan para ulama? Orang-orang Syi’ah mengatakan Umar bin Abdul Aziz adalah Khalifah ke lima, sehingga mereka punya alasan mencaci Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
Tetapi kita mengatakan:
“Beliau (Mu’awiyah bin Abi Sufyan) adalah khalifah yang zuhud, khalifah yang shalih, khalifah yang mencintai ilmu dan ulama”.
Beliau seorang yang shalih.
Maka bagaimana kita menghilangkan kemusykilan ini? Pertama kali yang perlu kita perhatikan sehingga kemusykilan ini hilang, bahwa di dalam pengutamaan, Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak memaksudkan para penguasa dan para pemimpin. Jika beliau memaksudkan para penguasa dan para pemimpin, pastilah zaman Umar bin Abdul Aziz lebih baik daripada zaman Al-Hajjaj, sehingga ini menyelisih hadits. Tetapi Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam memaksudkan yang lain.
Apakah timbangan kita untuk menilai manusia? Agama. Kita tidak menilai zaman berdasarkan penguasanya. Yang dikehendaki Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam adalah manhaj, pemahaman agama. Manhaj, yang dengannya kita memahami agama.
Manakah yang lebih utama, manhaj untuk memahami agama yang ada di zaman Al-Hajjaj atau zaman Umar bin Abdul Aziz? Di zaman Al-Hajjaj !
Karena Al-Hajjaj ada di zaman sahabat. Manhaj sahabat lebih murni, lebih bersih, lebih utama, dan lebih baik daripada manhaj tabi’in. Dan zaman Umar bin Abdul Aziz adalah zaman tabi’in. Sedangkan sahabat lebih utama daripada tabi’in.
Oleh karena inilah Abdullah bin Mas’ud berkata:
“Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam tidak menghendaki banyaknya harta yang diraih oleh salah seorang di antara kamu, tetapi yang beliau kehendaki ilmu.”
Ilmu di zaman Al-Hajjaj lebih utama daripada di zaman Umar bin Abdul Aziz. Karena di akhir zaman, ketika manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu para pemimpin itu ditanya, mereka menjawab dengan tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.
Kita mendekati datangnya hari kiamat. Hanya umat yang selalu bersama ulamanya, yang mampu membedakan fitnah, seorang ‘alim yang membedakan.
Abu Nu’aim meriwayatkan di dalam Al-Hilyah dari Mak-hul Asy-Syami, (seorang tabi’i yang agung) dia berkata:
“Jika fitnah datang dan menampakkan kepalanya, seorang ‘alim telah mengetahuinya dari kejauhan. Jika fitnah telah berpaling dan pergi, maka tiap-tiap orang jahil baru mengetahuinya”.
Seorang ‘alim menimbang segala perkara dengan syari’at. Sebelum fitnah datang, dia telah mengetahuinya. Sedangkan orang jahil, kapan dia mengetahui fitnah? Ketika fitnah telah pergi dan telah selesai. Maka apakah faidah dia mengetahuinya?
Laits bin Sa’ad, ahli fikih dari Mesir, berkata:
“Jika kamu melihat seseorang berjalan di atas air, janganlah kamu mendengarkannya, sampai kamu teliti perbuatannya dengan Al-Kitab dan As-Sunnah”.
Imam Syafi’i berkata:
“Semoga Allâh merahmati Laits, karena dia telah bersikap kurang. Adapun aku mengatakan: ‘Jika kamu melihat seseorang berjalan di atas air, dan terbang di udara, janganlah kamu mendengarkannya, sampai kamu cek perbuatannya dengan Al-Kitab dan As-Sunnah’.
Seorang ‘alim mengecek amalan manusia dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, sehingga dia mengetahui fitnah.
Fitnah lebih dahsyat jika terjadi fitnah buta; Sesuatu yang paling dahsyat atas kaum muslimin yang mencintai kebaikan dan mendapati ulama’ diantara mereka.
Maka jika terjadi fitnah, sepantasnya bagi thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) dan orang awam berdiri di belakang para ulama! Tidak mendahului mereka, dan tidak melewati batas terhadap mereka.
Sikap seorang mukmin di saat fitnah hendaklah kokoh di atas agamanya. Ketika melihat fitnah yang bertambah keras, hendaklah dia memohon ketetapan di atas agama kepada Rabbnya, agar Dia mematikannya dengan tidak tertimpa fitnah.
Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Akan datang fitnah, lalu sebagiannya akan mengecilkan sebagian yang lain.
Kemudian akan datang fitnah, lalu seorang mukmin akan berkata:
“Inilah kebinasaanku”.
Lalu fitnah itu hilang.
Kemudian akan datang fitnah,
lalu seorang mukmin akan berkata: “Inilah, inilah”.
Seorang mukmin menjauhkan fitnah dari dirinya dan dari anak-anak kaumnya (masyarakatnya). Dia tidak merubah atau mengganti (agamanya). Dia menyukai dan mengutamakan kematian daripada agamanya tertimpa fitnah.
“Wahai Allâh, jika Engkau menghendaki fitnah menimpa kami, maka matikanlah kami dengan tidak terfitnah.”
Inilah doa Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam, diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Ibnu Khuzaimah, dan yang lain, bahwa Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berkata dan berdoa:
“Wahai Allâh,
aku mohon kepadaMu amalan-amalan yang baik,
meninggalkan kemungkaran-kemungkaran,
mencintai orang-orang miskin,
agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku.
Jika Engkau menghendaki fitnah menimpaku dan kaumku,
maka ambillah aku ke hadirat-Mu dengan tidak terfitnah.”
Diantara penyebab selamat dari fitnah adalah doa. Seorang mukmin mengutamakan kematian daripada agamanya terfitnah. Apakah faidah kehidupan seorang mukmin (jika tertimpa fitnah)? Hidup hanyalah beberapa tahun, kemudian keluar dari dunia menuju neraka jahannam -kita mohon perlindungan kepada Allâh-.
Seandainya dunia itu terbuat dari emas murni tetapi fana. Sedangkan akhirat terbuat dari tembikar, dari keramik tetapi kekal. Maka orang yang berakal akan mengutamakan tembikar yang kekal daripada emas yang fana. Lalu bagaimana jika akhirat terbuat dari emas murni, sedangkan dunia itu terbuat dari keramik ?
Oleh karena inilah, Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat mohon perlindungan kepada Allâh dari fitnah.
Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam berdoa yang artinya:
“Wahai Allâh,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari fitnah yang menyesatkan.
Wahai Allâh sesungguhnya aku berlindung kepadaMu
dari malapetaka yang membahayakan dan dari fitnah yang menyesatkan.”
Di dalam hadits riwayat Bukhari dari Anas, suatu hari Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang artinya:
“Bertanyalah kepadaku!
Maka para sahabat pun bertanya kepada beliau,
sehingga mereka mendesak dan memperbanyak pertanyaan.
Sehingga seorang lelaki berdiri.
Kebiasaan orang-orang jika berbantahan, mereka mencela nasab.
Lelaki itu berkata: “Wahai Rasulullah, siapakah bapakku?”
Beliau menjawab: “Bapakmu Hudzafah”.
Mereka bertanya dan mendesak beliau dengan pertanyaan,
sampai Rasulullah marah.
Ketika Umar melihat kemarahan pada wajah beliau, dia berdiri dan berkata:
“Kami ridha Allâh sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami,
dan Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam sebagai Nabi dan Rasul.
Wahai Allâh sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari fitnah.”
Anas berkata:
“Maka aku perhatikan sekelilingku, dan aku dapati setiap orang
-yakni para sahabat Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam-
meletakkan pakaiannya pada wajahnya, menangis.”
Para sahabat mohon perlindungan kepada Allâh dari fitnah. Maka seorang mukmin hendaklah selalu mohon kepada Rabbnya, mati di atas iman.
Termasuk doa yang paling banyak diucapkan oleh Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam adalah yang artinya:
“Wahai Allâh Yang membolak-balikkan hati dan pandangan,
tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.
Wahai Allâh Yang memalingkan hati,
tetapkanlah hatiku di atas ketaatan kepadaMu.”
![]()
(Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI)
Bersyukur itu Lebih Indah
Yang indah hanya sementara.
Yang abadi adalah kenangan.
Yang ikhlas hanya dari hati.
Yang tulus hanya dari sanubari.
Tidak mudah mencari yang hilang.
Tidak mudah mengejar impian.
Namun yang lebih susah mempertahankan yang ada Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga Ingatlah pada pepatah.
“Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, Maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini”
Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif….Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas Rumah mewah bagai istana, harta ,benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yang luar biasa, namun…Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi. Sehelai benang pun tak bisa dimiliki , Apalagi yang mau diperebutkan, Apalagi yang mau disombongkan.
Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani.
Jangan terlalu perhitungan.
Jangan hanya mau menang sendiri
Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita.
Belajarlah tiada hari tanpa kasih.
Selalu berlapang dada dan mengalah.
Hidup ceria, bebas leluasa.
Tak ada yang tak bisa diikhlaskan.
Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan.
Tak ada dendam yang tak bisa terhapus.
Insya Allah Barakah . . .
Ajiiibbb . . .
Sepenggal Makna Syair Lir-Ilir
Lir-ilir… Lir-ilir…
Tandure wus sumilir, tak ijo royo-royo..
Tak sengguh temanten anyar…
Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita, tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri. Namun tidak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair itu ia telah lantunkan dan tidak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah faham. Padahal kata-kata beliau itu mengeja kahidupan kita ini sendiri. Alfabeta, alif, ba’, ta’ kebingungan sejarah kita dari hari ke hari. Sejarah tentang sebuah negeri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidaksanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperi. Menggeliatlah dari matimu tutur sang Sunan, siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidur panjangmu sungguh negeri ini adalah penggalan surga. Surga seakan-akan pernah bocor dan mencipratkan kekayaan dan keindahannya, dan cipratan keindahannya itu bernama Indonesia Raya. Engkau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan. Tidak mungkin engkau temukan makhluk Tuhanmu kelaparan di tengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra ini, bahkan bisa engkau selenggarakan dan rayakan pengantin-pengantin pembangunan lebih dari yang bisa dicapai oleh negeri-negeri lain yang manapun. Tapi kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini. Kita telah memboroskan anugerah Tuhan ini melalui cocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan.
Cah angon… Cah angon…
Penekno blimbing kuwi, lunyu-lunyu penekno..
Kanggo mbasuh dodot iro…
Kanjeng Sunan tidak memilih figur misalnya Pak Jendral.. Pak Jendral…, juga bukan intelektual-intelektual, ulama’-ulama’, seniman-seniman, sastrawan-sastrawan atau apapun, tetapi cah angon-cah angon. Beliau juga menuturkan penekno blimbing kuwi, bukan penekno pelem kuwi, bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah yang lain, tetapi blimbing berkikir lima. Terserah apa tafsirmu mengenai lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu. Lunyu-lunyu penekno agar blimbing bisa kita capai bersama-sama. Dan yang harus memanjat adalahbocah angon, anak gembala. Tentu saja ia boleh seorang Doktor, boleh seorang Seniman, boleh seorang Kiai, boleh seorang Jendral atau siapapun, namun ia harus memiliki daya angon,daya menggembalakan, kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesama saudara sebangsa. Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama, memancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan. Bocah angon adalah seorang pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan. Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjatnya. Harus dipanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan atau diperebutkan. Dan air sari pati blimbing lima kikir itu diperlukan oleh bangsa ini untuk mencuci pakaian nasional. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Kalau engkau tidak percaya, berdirilah engkau di depan pasar dan copotlah pakaianmu, maka engkau kehilangan segala macam harkatmu sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia, pakaian adalah pegangan nilai landasan moral dan sistem nilai. Sistem nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima.
Dodot iro… Dodot iro…
Kumitir bedah ing pinggir..
Dondomono, jlumetono.., kanggo sebo mengko sore..
Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane..
Yo sorak o sorak iyo…
Renungan Ilir-Ilir, Emha Ainun Nadjib.
MENGAPA WANITA RAMAI MENGHUNI NERAKA?
RASULULLAH s.a.w. sewaktu Isra dan Mikraj telah diberi kesempatan oleh Allah SWT melihat ke dalam neraka. Ternyata kebanyakan penghuninya terdiri daripada wanita. Mereka menerima azab dan seksa yang amat menggerunkan.
Jika diteliti beberapa perkara yang dikaitkan dengan wanita, amat jelas masalah AURAT adalah masalah utama yang menyebabkan sebilangan besar golongan wanita diazab oleh Allah di dalam neraka, tetapi masalah ini jugalah yang paling susah hendak diterima oleh wanita.
Ada kalangan wanita menutup aurat tapi dalam masa yang sama memakai seluar ketat atau baju yang masih menampakan susuk tubuh mereka. Ada yang menutup aurat tetapi masih bergaul bebas atau masih mudah bersalaman dengan lelaki yang bukan mahram mereka.
Persoalannya, apakah mereka menutup aurat kerana memenuhi tuntutan Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah di dalam al-Quran atau sekadar fesyen atau meniru atau sekadar melepas batuk ditangga? Kalau ini tujuannya, mereka masih terdedah kepada azab Allah atau masih jahil atau buta agama.
Sabar dan Ikhlas
Pada umumnya kita semua bisa lebih sabar, disaat kita di uji Allah dengan hal yang menyenagkan, tapi saat kita di uji Allah dengan ujian yang tidak menyenangkan, seperti ujian kesulitan, ujian kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit menerimanya dan sulit untuk bisa sabar.
Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan musibah, penyakit, kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini. Perhatikan firman Allah SWT berikut ini “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)
Ketahuilah, sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Harta yang kita miliki, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah yang kita miliki, anak dan keluarga, itu semua adalah ujian dari Allah dan titipan Allah. Apakah kita bersyukur atau menjadi kufur?
Kita harus memahami dengan sebaik-baiknya bahwa Allah lah pemilik yang sebenar-benarnya atas segala sesuatu apapun yang kita miliki di dunia ini. Dengan menyadari bahwa semua yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah dan titipan Allah, maka begitu Allah mengambilnya dari kita, insya Allah kita akan lebih mudah merelakannya. Karena kita menyadari, bahwa semua itu adalah milik Allah dan titipan Allah. Dan yang namanya titipan, suatu saat nanti memang pasti akan kembali pada pemiliknya, kapanpun pemiliknya menghendaki apa yang dititipkan kembali atau mau mengambilnya dari kita, maka kita harus dengan rela memberikannya.
Jadi, jangan menjadi stres, terpukul dan merasa kehilangan yang sangat berat, apabila kemarin kita masih punya mobil, sekarang sudah tidak lagi, jangan stres dan bersedih hati apalagi sampai meratapi nasib, apabila bulan kemarin usaha kita masih sukses, sedangkan sekarang kita mengalami kegalalan yang besar.
Karena sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini: “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketahuilah dan yakinlah, bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).
Rasulullah SAW bersabda : “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kita harus rela menerima segala ketentuan Allah dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)
Apabila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembal). ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.” Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada anak salah seorang hamba itu meninggal maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab ‘Ya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [1408]).
Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini : “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang bila kita renungkan dan pahami dengan sebaik-baiknya, insya Allah bisa membuat kita semua bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian-Nya yang paling berat sekalipun :
1. Kita harus percaya pada jaminan Allah bahwa : ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah [2] : 286). Allah SWT yang memiliki diri kita, sangat tahu kemampuan kita, jadi tidak akan mungkin Allah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan kita.
2. Sebenarnya, kita semua pasti mampu untuk bisa sabar dalam segala ujian dan segala keadaan, asalkan kita kuat iman.
3. Coba kita tanyakan pada diri kita, saat kita ditimpa suatu ujian kesulitan, kesedihan dan atau kehilangan, apa manfaat yang bisa kita ambil kalau kita tidak sabar dan tidak mengikhlaskannya? Apakah dengan ”tidak sabar” dan ”tidak ikhlas” nya kita, maka bisa menghadirkan kenyamanan untuk kita? Atau bisa membuat ujian tersebut tidak jadi datang atau tidak jadi menimpa kita? Sekarang mari kita pikirkan kembali, kita sabar atau tidak sabar, ikhlas atau tidak ikhlas, ujian kesulitan / kesedihan atau musibah tetap terjadi dan menimpa kita kan? Jadi lebih baik kita terima dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bila kita bisa sabar dan ikhlas menerimanya, maka insya Allah, tidak akan terasa berat lagi ujian tersebut, percayalah. Dan ingat, dalam sabar, terkandung ridha Allah SWT. Dan ridha Allah SWT terhadap kita, adalah segalanya.
4. Kita harus selalu baik sangka kepada Allah SWT dan jangan pernah sekalipun meragukan dan mempertanyakan keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah. Kita harus bisa sabar dan ridha terhadap apapun keputusan, ketetapan dan pengaturan-Nya. Kalau kita masih merasa tidak puas dengan semua keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah itu, maka cari saja Tuhan selain Allah. Perhatikan firman-Nya dalam hadits Qudsi : ”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir melalui jalur Abu Hind al-Dari)
Karena itu, marilah kita sabar dan ikhlas dalam segala keadaan, yakinlah bahwa janji Allah pasti benar. Percayalah, sabar dan ikhlas, akan membuahkan kebahagiaan hidup.
Positif and Keep Ceria
Hati Lelaki Bak Brankas
Hati lelaki seperti brankas, tempat menyimpan segale masalah. Lelaki lebih memilih bermain dengan pikirannye. Diam adalah care die untuk meraba jalan keluar. Masalah nyeng datang menerjang adalah makanan sehari hari nyeng kudu ditaklukkan. Diendapkan dalam sikap dewase dan diuraikan dengan kemampuan nalarnye. Air mate lelaki mahal. Tidak mudeh menetes manakale bingung mengepung. Tidak mudah menetes manakale panik mencekik. Tapi mungkin justru akan menetes pelan saat menghamba dalam kerinduan. Menyepi dalam kepasrahan. Bertobat akan jutaan kesalahan nyeng pernah dilakukan.
Cerite? kapan kapan aje. karena die hanye akan cerita bila memang ade peluang solusi masalah nyeng orang diajak berbagi. Tidak sembarang orang bise mendengar curahan hati. Tidak semua orang pula bisa sedemikian mudeh percaye dan mempercayakan masalahnye. Maka menyimpan masalah adalah lebih baik, daripada harus terbuke karene hati hingga lari kemane mane masalah pribadi.
Berbeda dengan perempuan. Hatinye tak kuase menahan persoalan persoalan. Bercerite, berbagi, dan juge mengekspresikan diri dalam sikap dan tingkah laku adalah hal yang biase. Susah bagi wanite menyembunyikan perasaan. Apakah itu suka, benci atau bahkan sedih. Ingin rasanye seperti pria yang selalu pakai logika. tapi nampaknye perempuan memang berbeda. Dia lebih suka bicara pada hati dan komitmen. Bicara pada soal memiliki dan dimiliki. Tidak lagi bicara pada soal suka atau tidak suka semata.
Make air mata bagi wanite adalah sebuah care untuk mengungkapkan perasaan. Bahagie, haru, benci dan bahkan luka, menjadi sangat jelas terpancar lewat linangan air mata dan isakan tangisnye. Maka bila memang itu terjadi, mereka hanye butuh didengar dan diperhatikan. Butuh dibantu dan diakui keberadaannye. Serta butuh sandaran, yang akan bisa menguatkan, langkeh kaki kehidupan yang masih kudu berjalan entah sampai kapan.
Creatif by Indra Gunawan, S.Pd.I
Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athass,Pejuang yang Penuh Makrifat
Kawasan Empang Bogor Selatan, Kota Bogor menjadi terkenal karena di lokasi itu berdiri Masjid Keramat An Nur yang lokasinya tepat di Jalan Lolongok.Di Kompleks Masjid An nur itulah, Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas di makamkan, bersama dengan makam anak-anaknya yaitu Al Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Zen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Husen Bin Abdullah Al Athas, Al Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas, dan makam murid kesayangannya yaitu Al Habib Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir.
Dalam Manakibnya disebutkan bahwa Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas adalah seorang “ Waliyullah” yang telah mencapai kedudukan mulia dekat dengan Allah SWT. Beliau termasuk salah satu Waliyullah yang tiada terhitung jasa-jasanya dalam sejarah pengembangan Islam dan kaum muslimin di Indonesia. Beliau seorang ulama “Murobi” dan panutan para ahli tasauf sehingga menjadi suri tauladan yang baik bagi semua kelompok manusia maupun jin.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin. Bin Muhammad. Bin Abdullah. Bin Muhammad. Bin Mukhsin. Bin Husen. Bin Syeh Al Kutub,Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas adalah seorang tokoh rohani yang dikenal luas oleh semua kalangan umum maupun khusus.Beliau adalah “Ahli kasaf” dan ahli Ilmu Agama yang sulit ditandingi keluawasan Ilmunya, jumlah amal ibadahnya, kemulyaan maupun budi pekertinya.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas beliau asli dari Yaman Selatan dilahirkan di desa hawrat salah satu desa di Al Kasar, Kampung kharaidhoh, “Khadramaut” pada hari Selasa 20 Jumadi Awal 1275 hijriah. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan rohani dan perhatian khusus dari Ayahnya. Beliau mepelajari Al Qur’an dimasa kecilnya dari Mu’alim Syeh Umar Bin Faraj Bin Sabah.
Dalam Usia 17 tahun beliau sudah hafal Al Qui’an. Kemudian beliau oleh Ayahnya diserahkan kepada ulama terkemuka di masanya. Beliau dapat menimba berbagai cabang ilmu Islam dan Keimanan.
Diantara guru–guru beliau, salah satunya adalah Assyayid Al Habib Al Qutbi Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, dari guru yang satu itu beliau sempat menimba Ilmu–Ilmu rohani dan tasawuf, Beliau mendapatkan do’a khusus dari Al Habib Abu Bakar Al Athas, sehingga beliau berhasil meraih derajat kewalian yang patut. Diantaranya guru rohani beliau yang patut dibanggakan adalah yang mulya Al Habib Sholih Bin Abdullah Al Athas penduduk Wadi a’mad.
Habib Abdullah pernah membaca Al Fatihah dihadapan Habib Sholeh dan Habib Sholeh menalkinkan Al Fatihah kepadanya Al A’rif Billahi Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Habsi. ketika melihat Al Habib Abdullah Bin Mukhsin yang waktu itu masih kecil beliu berkata sungguh anak kecil ini kelak akan menjadi orang mulya kedudukannya.
Al Habib Abdullah Bin Mukhsin pernah belajar Kitab risalah karangan Al Habib Ahmad Bin Zen Al Habsi kepada Al Habib Abdullah Bin A’lwi Alaydrus sering menemui Imam Al Abror Al Habib Ahmad Bin Muhammad Al Muhdhor. Selain itu beliau juga sempat mengunjungi beberapa Waliyulllah yang tingal di hadramaut seperti Al Habib Ahmad Bin Abdullah Al Bari seorang tokoh sunah dan asar.Dan Syeh Muhammad Bin Abdullah Basudan. Beliau menetap di kediaman Syeh Muhammad basudan selama beberapa waktu guna memperdalam Agama.
Pada tahun 1282 Hijriah, Habib Abdulllah Bin Mukhsin menunaikan Ibadah haji yang pertama kalinya.Selama di tanah suci beliau bertemu dan berdialog dengan ulama–ulama Islam terkemuka. Kemudian, seusai menjalankan ibadah haji, beliau pulang ke Negrinya dengan membawa sejumlah keberkahan. Beliau juga mengunjungi Kota Tarim untuk memetik manfaat dari wali–wali yang terkenal.
Setelah dirasa cukup maka beliau meninggalkan Kota Tarim dengan membawa sejumlah berkah yang tidak ternilai harganya. Beliau juga mengunjungi beberapa Desa dan beberapa Kota di Hadramaut untuk mengunjungi para Wali dan tokoh–tokoh Agama dan Tasauf baik dari keluarga Al A’lwi maupun dari keluarga lain.
Pada tahun 1283 H, Beliau melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulangnya dari Ibadah haji, beliau berkeliling ke berbagai peloksok dunia untuk mencari karunia Allah SWT dan sumber penghidupan yang merupakan tugas mulya bagi seorang yang berjiwa mulya. Dengan izin Allah SWT, perjalanan mengantarkan beliau sampai ke Indonesia. beliau bertemu dengan sejumlah Waliyullah dari keluarga Al Alwi antara lain Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bin Hamzah Al Athas.
Sejak pertemuanya dengan Habib Ahmad beliau mendapatkan Ma’rifat. Dan, Habib Abdullah Bin Mukhsin diawal kedatangannya ke Jawa memilih Pekalongan sebagai Kota tempat kediamannya. Guru beliau Habib Ahmad Bin Muhammad Al Athas banyak memberi perhatian kepada beliau sehinga setiap kalinya gurunya menunjungi Kota Pekalongan beliau tidak mau bermalam kecuali di rumah Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos.
Dalam setiap pertemuan Habib Ahmad selalu memberi pengarahan rohani kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin sehingga hubungan antara kedua Habib itu terjalin amat erat. Dari Habib Ahmad beliau banyak mendapat manfaat rohani yang sulit untuk dibicarakan didalam tulisan yang serba singkat ini.
Dalam perjalan hidupnya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas pernah dimasukan kedalam penjara oleh Pemerintah Belanda, mungkin pengalaman ini telah digariskan Allah. Sebab, Allah ingin memberi beliau kedudukan tinggi dan dekat dengannya. Nasib buruk ini pernah juga dialami oleh Nabi Yusuf AS yang sempat mendekam dalam penjara selama beberapa tahun. Namun, setelah keluar dari penjara ia diberi kedudukan tinggi oleh penguasa Mashor yang telah memenjarakannya.
Karomah dan Kekeramatan Habib Abdullah
Selama di penjara ke keramatan Habib Abdullah Bin Mukhsin semakin tampak sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung kerpenjaraan tersebut. Tentu saja hal itu mengherankan para pembesar penjara dan penjaganya. Sampai mereka pun ikut mendapatkan berkah dan manfaat dari kebesaran Habib Abdullah dipenjara,
Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau Mereka lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan dirawarkan kepada Habib Abdullah beliau menolak dan lebih suka menungu sampai selesainya masa hukuman.
Pada suatu malam pintu penjara tiba–tiba terbuka dan datanglah kepada beliau kakek beliau Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas seraya berkata, Jika kau ingin keluar dari penjara keluarlah sekarang, tetapi jika engkau mau bersabar maka bersabarlah.
Beliau ternyata memilih untuk bersabar dalam penjara, pada malam itu juga Sayyidina Al Faqih Al Muqodam dan Syeh Abdul Qodir Zaelani serta beberapa tokoh wali mendatangi beliau. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Al Muqodam memberikan sebuah kopiah. Ternyata dipagi harinya Kopiah tersebut masih tetap berada di kepala Al Habib Abdullah Padahal, beliau bertemu dengan Al Faqih Al Muqodam didalam impian.
Para pengujung terus berdatangan kepenjara sehingga berubahlah penjaraan itu menjadi rumah yang selalu dituju, Beliau pun mendapatkan berbagai kekeratan yang luar biasa mengingatkan kembali hal yang dimiliki para salaf yang besar seperti Assukran dan syeh Umar Muhdor
Diantara Karomah yang beliau peroleh adalah sebagaimana yang disebutkan Al Habib Muhammad Bin Idrus Al Habsyi bahwa Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ketika mendapatkan anugrah dari Allah SWT, beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah, hilang dengan segala hubungan alam dunia dan sergala isinya. Al Habib Muhammad Idrus Al Habsyi juga menuturkan, ketika aku mengujunginya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos dalam penjara aku lihat penampilannya amat berwibawa dan beliau terlihat dilapisi oleh pancaran Illahi. Sewaktu beliau melihat aku beliau mengucapkan bait –bait syair Habib Abdullah Al Hadad yang awal baitnya adalah sbb “ Wahaii yang mengunjungi Aku di malam yang dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan menebarkan berita fitrah, Selanjutnya, kata Habib Muhammad Idrus, kami selagi berpelukan dan menangis, “
Karomah lainnya setiap kali beliau memandang borgol yang membelegu kakinya, maka terlepaslah borgol itu.
Disebutkan juga bahwa ketika pimpinan penjara menyuruh bawahannya untuk mengikat keher Habib Abdullah Bin Mukhsin maka dengan rante besi maka atas izin Allah rantai itu terlepas, dan pemimpin penjara beserta keluarga dan kerabatnya mendapat sakit panas, dokter tak mampu mengobati penyakit pemimpin penjara dan keluarganya itu, barulah kemudian pemimpin penjara sadar bahwa ;penyakitnya dan penyakit keluarganya itu diakibatkan Karena dia telah menyakiti Al Habib yang sedang dipenjara.
Kemudian, kepala penjara pengutus bawahannya untuk mendo’akan, penyakit yang di derita oleh kepala penjara dan keluarganya itu agar sembuh Maka, berkatalah Habib Abdullah kepada utusan itu Ambillah borgol dan rante ini ikatkan di kaki dan leher pemimpin penjara itu, maka akan sembuhlah dia.
Kemudian dikerjakanlah apa yang dikatakan oleh Habib Abdullah, maka dengan izin Allah SWT penyakit pimpinan penjara dan keluarganya seketika sembuh. Kejadian ini penyebabkan pimpinan penjara makin yakin akan kekeramatan Habib Abdullah Mukhsin Al Athas. Sekeluarnya dari penjara beliau tinggal di Jakarta selama beberapa tahun.
Perjalanan ke Empang
Dari sumber lain disebutkan, bahwa awal mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ke Indonesia, pada tahun 1800 Masehi, waktu itu beliau diperintahkan oleh Al Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar Alayidrus, untuk menuju Kota Mekah. Dan sesampainya di Kota Mekah, beliau melaksanakan sholat dan pada malam harinya beliau mimpi bertemu dengan Rasullah SAW, entah apa yang dimimpikannya, yang jelas ke esok harinya beliau berangkat menuju Negeri Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Al Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas yang da dipakojan Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya, lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas memerintahkan agar beliau datang berziarah ke Habib Husen di luar Batang, dari sana sampailah perjalanan beliau ke Bogor beliau datang ke Empang dengan tidak membawa apa-apa.
Pada saat belau datang ke Empang Bogor, disana disebutkan bahwa Empang yang pada saat itu belum ada penghuninya, namun dengan Ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan dipinggiran empang, kebetulan pada saat itu datang kepada beliau seorang penduduk Bogor dan berkata “ Habib, kalau anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukanlah kepada saya akan kekeramatannya..
Pada saat itu kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas tengah makan dengan seekor ikan dan ikan itu tinggal separuh lagi. Maka Habib Abdukkah berkata” Yaa sama Anjul ilaman Tabis,” ( wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah) maka atas izin Allah SWT, seketika itu juga ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke empang. Konon ikan sebelah tersebut sampai sekarang masih hidup dilaut.
Masjid Keramat Empang didirikan sekitar tahun 1828 M. pendirian Masjid ini dilakukan bersama para Habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia. Di Sekitar Areal Masjid Keramat terdapat peninggalan rumah kediaman Habib Abdullah, yang kini rumah itu ditempati oleh Khalifah Masjid, Habib Abdullah Bin Zen Al Athas. Didalam rumah tersebut terdapat kamar khusus yang tidak bisa sembarang orang memasukinya, karena kamar itu merupakan tempat khalwat dan zikir beliau. Bahkan disana terdapat peninggalan beliau seperti tempat tidur, tongkat , gamis dan sorbannya yang sampai sekarang masih disimpan utuh.
Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, namun yang ada sekarang tinggal 100 kitab, sisanya disimpan di “Jamaturkhair atau di Rabitoh”. Tanah Abang Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Faturrabaniah” konon kitab itu hanya beredar dikalangan para ulama besar,
Adapun karangannya yang lain adalah kitab “Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad.” Kedua kitab itu merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap magrib oleh beliau kepada murid-muridnya dimasa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas menganjurkan supaya tetap dibacanya.Habib Abdullah Bin Al Athas, adalah seorang Waliyullah dengan kiprahnya menyebarkan Agama Islam dari satu negeri kenegeri lain. Di Kampung Empang beliau menikahi seorang wanita keturanan dalem Sholawat. Dari sanalah beliau mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas, sampai sekarang 85 bangunan yang terdapat di kampung Empang didalam sertifikatnya atas nama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas.
Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang dikenal yaitu “ Dala’l Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Menurut Manakib, beliau dipanggil Allah SWT pada hari Selasa, 29 Zulhijjah 1351 Hijriah diawal waktu zuhur Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya hari Rabu setelah Sholat zuhur. Tak terhitung jumlah orang yang ikut mesholatkan jenazah. Beliau dimakamkan di bagian Barat Masjid An nur Empang,sebelum wafat beliau terserang sakit flu ringan.
Sumber: Kitab Manakib Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas







